Tiada Lagi, Citrawani
Salam hormat,
Di rumah bambu itu, dia bingung sekali.
“Engkau telah melukakan hatinya!”
“Engkau telah melecehkannya. Mengabaikannya!”
“Engkau hanya tukang karut. Pengangguran lagi. Engkau tidak pantas mendampinginya. Lagipun….., dia telah tiada, telah pergi, bukan?”
“Engkau mesti melupakannya. Mesti. Titik !!!”
Terngiang-ngiang. Mengetuk jendela hatinya.
Noktah.
(ii)
…menghidupi detik-detik selanjutnya dari malam yang sisa.
Malam-malamnya seperti ini terlalu kecil untuk dapat menampung pengungsiannya dari harapan yang terlalu besar digantungkannya pada tikungan jalan, entah tikungan mana. Tapi, fajar yang mengambang di ufuk tiap pagi membawa ingatan putih baginya, bahawa tikungan jalan bukanlah tempat untuk menemui orang mati, bahawa isterinya sesungguhnya ada di bawah tanah perkuburan yang entah sudah berapa lama tak pernah dikunjunginya.
…..demikianlah, IS dan Ziarah itu…..
(iii)
Begitu.
Ketidakpedulian atau kealpaan dan keterpaksaan, saling berbaur. Saling mencengkam. Entah di tikungan mana.
Wani itu milik masa silammu.
Bukan lagi milikmu.
Bukan lagi milikmu.
Bukan milikmu.
Sepi. Bungkem. Terkedu. Suaranya bagai kabur meninggalkannya lewat jendela. Entah ke mana. Yang tinggal hanyalah citra. Dan seorang aku.
Noktah.
(iv)
Di rumah bambu itu, dia termangu.
“Terpadam jua namamu….., di kanvas sejarah kehidupan ini”, bisik hatikecilnya. Lirih sekali. Selirih desir angin malam yang akrab mengusik ziarahnya.
Yang tinggal hanyalah citra. Dan seorang aku, di rumah bambu itu.
Citra, seorang aku, dan rumah bambu ~ yang kehilangan nama entah sekian lama ~ lewat ziarahnya.
Noktah.
__________________________
- SEORANG AKU










antar bicara