Archive

Archive for the ‘Menyulam Rasa’ Category

Sukarnya Memaksakan Pilihan

October 6, 2011 Leave a comment

Salam hormat,

Bila beduk diketuk mengaturkan janji di pentas ibadah, itulah isyarat untuk bersegera melangkahkan kakimu, tanggungjawab yang takbisa ditawar atau tertunda oleh nikmat kepastian dan yakindiri. Engkau cuma makhluk milik-Nya.

Memang demikian fitrahnya. Kecuali yang alpa.

(ii)

Bila kibaran bendera mencaturkan pilihan di pentas terbuka, itulah juga isyarat untuk bersegera melangkahkan kakimu, tanggungjawab yang takbisa tertunda, tapi masih juga bisa ditawar oleh ketidakpastian sang ragu-ragu. Engkau bukan budak mereka.

Memang sukar memaksakan pilihan. Bila engkau tiada pilihan.

___________________________

- SEORANG AKU

Daun yang Jatuh Berguguran

March 27, 2011 2 comments

Salam hormat,

Apa khabar pemimpin negeri
berkulatkah sudah tanjak penghias kepala
tak terjunjung lagi meski mentari membakar minda
pernah kaupakai sekali tapi disimpan kembali
ada Mendaliar tersenyum sinis menongkah mimpi
dan aku tak bisa lagi mengharap
keramat sembah bestarimu.

Apa khabar pemimpin negeri
berkaratkah sudah keris bersalut di pinggang
tak terhunus lagi meski masih di medan juang
pernah kauhunus sekali tapi disarung kembali
ada Kaduk naik junjungan terguris hati
dan aku tak bisa lagi mengharap
semangat kental pahlawanmu.

Apa khabar pemimpin negeri
layukah sudah bunga harum terselit di telinga
tak berseri lagi meski pawana setia menghembus lirih
pernah kauhidu sekali tapi wanginya memang tak seharum kasturi
ada Kitul menyuntingnya untuk seberkas janji
aku takbisa lagi mengharap
setia janji manismu.

(ii)

Berada di lapangan terbuka yang engkau pasrahkan
kering keringatmu tidak lagi
membasahi bumi pertiwi
aku jadi keletihan mengutip
dedaunan kering di halaman
hujan dan angin kerap mengusirnya
berserakan dan terpinggir
gersang di bawah mentari merahmu.

Pepohonan tua pun tak bisa menepis
tajamnya rintik hujan
dan angin badai yang berpuput manis
menghunjam dedaunan muda,
daun yang jatuh berguguran
yang takpernah membenci
hujan dan angin.

(iii)

Hari ini aku begitu sedih, sedih sekali
berbangsa tanpa jiwa bahasa pemberani
meski dilangir disolek dengan manifesto cantik
terpinggir jua sebenarnya di hati nurani
sang pemimpin penjaga amanah
yang lolongnya bergema meremang suasana
perit di hati rakyat biasa
di kolong jambatan di gubuk buruk
di desa terceruk.

_________________________________

-  SEORANG AKU

Tidak Terganggukah Kilas Pandangan?

March 21, 2011 Leave a comment

Salam hormat,

 

Saban hari, menggunakan jalan raya
berulang alik tanpa jemu atau jerah
dari rumah ke tempat kerja kembali ke rumah
atau sekali sekali bercuti
ke ibu kota atau melawat sanak saudara di desa.

Tidak terganggukah kilas pandangan ini
melihatmu setia termangu di depan mata
sedang kenderaan pelbagai ragam memecut laju
meminta perhatianku.

 

(ii)

Saban hari, menggunakan jalan raya
berulang alik tanpa jemu atau jerah
dari rumah ke tempat kerja kembali ke rumah
atau sekali sekali bercuti
ke ibu kota atau melawat sanak saudara di desa.

Tidak terganggukah kilas pandangan ini
melihat engkau setia menunggu di balik kamera
merakam kenderaan pelbagai ragam memecut laju
meminta perhatianmu.

 

(iii)

Demikianlah hari-harinya
kilas pandangan ini merakam aksi
cerobohnya anak negeri di jalan raya
terpejam mata memadam papan tanda
ikut kiri jika tidak memotong atau had laju 110 km
memandu berbahaya memotong tanpa berkira
atau melanggar lampu isyarat merah
ketika aku sendiri patuh mengalah.

Dan hari ini berita di akhbar arus perdana
terungkap jawapan menteri kepada seteru politiknya
di  Dewan Rakyat mulia;
“Polis kutip RM476.6 juta bayaran saman trafik”
setelah berlama-lama bersabar mengundur waktu,
demikian hebatnya – harga nikmat kesetiaanmu.

Ironisnya
blog biasa pengamat politik negara
mengungkap bicara sinis tetapi manis dibaca
tentang projek himpun duit pesalah trafik negara
sumber lumayan pendapatan negara,
tentang terkutiplah untung atas angin berjuta -juta
kerana saman ekor polisnya
tentang penguatkuasa didesak lebih bertimbangrasa
atau undinya nanti
berpaling arah ketika pilihanraya.

 

(iv)

Meski pernah tersinggung dan malu
oleh biasan lensa kamera yang pernah keliru,
aku ini pemandu setia dan pasrah
pendukung ikhtiar murni membaikpulih sikap berhemah
meski kerap diperlekeh dan tersinggung
oleh rakan pemandu tak beradab lagi sombong.

Aku jadi lebih senang memastikan
kilas pandangan ini
terus melihatmu setia termangu di depan mata
daripada terus terganggu
melihat engkau tersiksa menunggu di balik kamera.

 

——————————————-

SEORANG AKU

Semangkuk Ubi Rebus Secangkir Kopi

March 20, 2011 Leave a comment

 

Salam hormat,

 

 

Semangkuk ubi rebus secangkir kopi
bertemankan sambal tumis ikan bilis
atau sesekali kelapa parut tersaji
untuk sarapan pagi,
atau kudapan bila lapar membisik telinga
sungguh nikmat terasa.

 

Waktu kecil-kecil dulu, waktu hujan lebat turun
mencurah-curah tak henti-henti
lalu banjir pun
melanda kampung berhari-hari
hidangan masih tetap sama, dicicipi dengan penuh selera
meski ubi ganyut cuma.

 

Anak-anak sekarang berbeza jauh seleranya
KFC, McDonald, Pizza Hut dan entah apa lagi jadi mainan bicara
lempeng atau jemput-jemput pisang dihidang tak akan terusik
jauh sekali si getuk ubi
tak akan terpandang tak pernah terbayang.

 

Bilakah agaknya dapat dihadirkan
ubi rebus atau lempeng pelbagai jenama dan rasa
di minda para pencipta resepi anak bangsa
jadilah pelengkap makanan segera
di warung biasa atau restoran ternama.

 

______________________________________

- AWAYZHA

Alangkah Anehnya Di Negeri Ini

March 4, 2011 Leave a comment

Salam hormat,

Aduhai
alangkah anehnya di negeri ini,
bangsa yang dibangunkan 53 tahun lamanya
masih bercempera anak-anak hingusannya
merangkak atau berjalan atau berlari
dengan arah tak sehala bicara tak sekata
mendongak menjunjung langit berbeza
bukan langit yang satu dan sama
pernah dilakar molek di minda nenek moyang  kita
tika melukis warna warni langit merdeka
dan tercalit di kanvas perlembagaan negara.

Kenapa begitu jadinya
si pencatur landskap negara jadi konyol tindak politiknya
telah engkau mungkiri ikrar mulia
untuk terus melakar langit yang satu dan sama
sebuah negara bangsa merdeka,
lalu terpadamlah
calitan rasa paling dalam dan luhur
membangun adicita bersama
oleh keangkuhan nostalgia
dan tolakansur makbapak berkuasa
yang berwewenang
tapi korup jalur fikirnya.

(ii)

Aduhai
alangkah anehnya, aneh sekali,
bangsa yang dibangunkan 53 tahun lamanya
masih terpinggir bahasa ibundanya
tersembunyikan di balik kaca pelan pembangunan
maka masih perlu ada bulan bahasanya
masih tidak perkasa bahasa induknya
seperti tidak perkasanya sang pemimpin kita
melakar langit impian pejuang kemerdekaan negara,
yang sudah lali dan tidak peduli
tentang wahana pembina  maruah masa depan,
yang sudah lali dan tidak peduli
tentang hodohnya rupa dan rona berbeza
bumbung sekolah anak-anak kita;
lalu yang begitu masih tetap begitu juga
lalu yang terkesima masih terus terkesima
dengan bahasa penjajahnya
mengatasnamakan kehebatan masadepan bangsa,
lalu yang pelat sebutannya sumbang intonasinya
masih terus pelat dan sumbang bicaranya
meski berada di parlimen atau dewan negara.

__________________

-  SEORANG AKU

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.